Menyajikan Informasi Istimewa dan Penting

Memuat...
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Pengetahuan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Maret 2016

Mengenal Fenomena Equinox yang "Sapa" Indonesia 2016 Ini

BELANTARAINFO- Sistem tata surya yang diciptakan Allah SWT untuk mendukung kehidupan di Bumi, memang sangat menakjubkan. Garis edar Matahari, Bumi dan planet-planet lain dalam sistem tata surya Bima Sakti misalnya, menciptakan banyak fenomena yang menakjubkan, yang membuat umat manusia yang beriman mengagumi, mengakui, bahkan tak dapat memungkiri bahwa Allah memang Maha Kuasa dan Maha Berkehendak. Tiada yang melebihi-Nya.

Pada 2015 lalu Indonesia disuguhi fenomena El Nino yang membuat sebagian wilayahnya mengalami kekeringan parah yang membuat tanah kering kerontang, retak-retak dan petani mengalami gagal panen, dan pada 9 Maret 2016 Indonesia disuguhi fenomena gerhana Matahari total (GMT) yang hanya terjadi dalam 350 tahun sekali.

Pada 21 Maret mendatang satu fenomena lagi akan hadir menyapa rakyat Indonesia, namanya fenomena equinox. Apa itu?

Equinox merupakan peristiwa astronomi di mana Bumi berputar mengelilingi matahari dengan posisi yang sedikit miring, sekitar 23,5 derajat terhadap bidang lintasannya yang dikenal sebagai ekliptik, sehingga sinar Matahari tidak selalu tepat berada di bagian tengah Bumi atau garis Khatulistiwa.

Saat fenomena ini muncul, belahan Bumi bagian utara miring mengarah ke Matahari, sehingga penduduk Bumi merasakan siang hari lebih panjang karena banyak cahaya jatuh di wilayah tersebut.

Fenomena ini terjadi dua kali dalam setahun, sekitar 21 Maret dan 23 September 2016.

Para astronom mengatakan, fenomena yang muncul pada 20 Maret ini adalah spring equinox yang menandai dimulainya siang hari yang terasa lebih panjang dan malam hari akan menjadi lebih pendek, dan fenomena ini akan berakhir saat fenomena summer solstice tiba pada 20 Juni.

Kemunculan fenomena spring equinox membuat musim panas menjadi terasa lebih kering karena temperatur suhu udara bisa naik hingga kisaran 33-36 derajat Celcius.

Selain Indonesia, Malaysia dan Singapura juga akan merasakan fenomena ini dalam waktu yang sama.


Asal-usul Nama Equinox

Nama "Equinox" berasal dari bahasa latin yang artinya "Malam yang sama panjang". karena saat fenomena ini terjadi, bukan hanya siang hari yang terasa panjang, namun malam hari juga demikian, sehingga saat fenomena terjadi, durasi siang dan malam menjadi sama panjangnya.

Bagi mereka yang tinggal di wilayah yang berada di garis khatulistiwa, merasakan durasi siang dan malam yang sama panjang adalah perkara biasa, tetapi tidak bagi yang tinggal di negara dengan empat musim. Bagi penduduk negara dengan empat musim, durasi malam dan siang yang sama panjang adalah hal langka yang dapat memicu keresahan.

Maklum, karena di negara empat musim, saat musim panas, siang menjadi lebih panjang dari malam, dan ketika musim dingin sebaliknya.

Saat fenomena equnox terjadi pada 21 Maret, Matahari 'berpindah' dari Kutub Selatan ke Kutub Utara yang menandakan datangnya musim panas di belahan utara. Equinox pada tanggal ini dinamakan Vernal Equinox.

Saat fenomena equinox pada 23 September, Matahari 'berpindah' dari Kutub Utara ke Kutub Selatan yang menandakan datangnya musim gugur di belahan Bumi utara. Equinox pada tanggal ini dinamakan Autumnal equinox.

Posisi Matahari pada 21 Juni berada di belahan utara bumi atau 23,5 derajat Lintang Utara, sedang pada 23 September, Matahari berada tepat di garisan Khatulistiwa.

Pada 22 Disember, Matahari berada di belahan selatan Bumi atau -23,5 derajat Lintang Selatan, dan pada 21 Maret Matahari kembali berada di Khatulistiwa.

Pada saat matahari berada di utara dan selatan (21 Juni dan 22 Desember) disebut sebagai Solstice Matahari (Titik Balik Matahari).

Solstice adalah satu peristiwa astronomi yang terjadi sebanyak dua kali setiap tahun apabila kedudukan Matahari di langit hampir mencapai titik paling utara atau paling selatan Bumi.

Nama peristiwa ini juga berasal dari bahasa Latin, yaitu sol yang berarti Matahari, dan sistere yang berarti diam.

Saat solstice terjadi, Matahari berada pada posisi kecondongan yang tetap, yaitu suatu posisi di antara utara dan selatan dimana Matahari berhenti sebelum berbalik arah.

Solstice dan equinox terkait erat dengan terjadinya musim di Bumi, karena fenomena-fenomena ini memperlihatkan seolah-olah Matahari bergerak dari utara ke selatan selama setengah tahun, dan bergerak dari selatan ke utara pada setengah tahun berikutnya. Pergerakan Matahari inilah yang membentuk empat musim di bumi, yaitu musim gugur, musim dingin, musim semi dan musim panas.

Ketika equinox terjadi, waktu antara siang dan malam menjadi sama, yaitu 12 jam di seluruh permukaan Bumi.


Pesan Berantai

Ketidakbiasaan seseorang atau sekelompok orang terhadap sesuatu yang tidak biasa, dapat memicu keresahan dan ketakutan yang berlebihan.  termasuk ketidakbiasaan penduduk di negeri dengan empat musim terhadap termasuk fenomena equinox.

Sejumlah media di Barat mengabarkan, menjelang fenomena itu terjadi, telah tersebar pesan berantai yang mengingatkan orang lain akan bahayanya fenomena ini.

Dalam pesan berantai itu disebutkan, karena cuaca akan menjadi sangat panas, masyarakat disarankan untuk tetap berada di rumah saat fenomena equinox terjadi, terutama pada pukul 12:00-15:00 karena di saat inilah cuaca sedang sangat menyengat. Bahkan disebut-sebut mencapai 40 derajat Celcius.

Cuaca ekstrim ini dapat memicu menyebabkan dehidrasi, sehingga setiap orang disarankan untuk banyak-banyak minum.

“Setiap orang harus mengonsumsi sekitar 3 liter cairan setiap hari, dan memonitor tekanan darah,” tulis pesan tersebut.

Tak hanya itu, untuk mengatasi serangan panas yang ekstrim, orang juga disarankan mandi air dingin sesering mungkin, mengurangi makan daging, dan perbanyak makan buah serta sayuran.

Untuk mengatahui tingkat serangan panas, disarankan menempatkan lilin yang tidak terpakai di luar rumah. Jika lilin meleleh, berarti udara dalam tingkat yang berbahaya.

“Selalu menempatkan ember dengan air setengah penuh di ruang tamu dan di suhu setiap kamar dijaga agar tetap lembab,” kata pesan itu lagi.

Pengalaman pertama di Malaysia dan Singapura, heat stroke tidak memiliki gejala indikasi. Setelah pingsan, efek serius yang berbahaya di antaranya seperti kegagalan organ dalam.

Namun National Envirnonment Agency (NEA) atau Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura, membantah isi pesan itu, karena katanya, saat equinox, suhu tidak mencapai 40 derajat Celsius, sehingga tidak terjadi heat stroke atau sun stroke yang berujung pada dehidrasi. (berbagai sumber)
Share:

Senin, 15 Februari 2016

5 Mitos Gerhana Matahari

BELANTARAINFO- Fenomena alam yang pernah terjadi di Indonesia 1983 atau 32 tahun yang lalu, sekali lagi akan menyapa Indonesia pada 9 Maret 2016.

Fenomena tersebut, gerhana Matahari total (GMT), akan melintasi 10 provinsi, dan selebihnya akan terjadi di wilayah perairan Samudera Pasifik.

Pihak terkait di Indonesia, yakni Kementerian Pariwisata dan jajarannya, menyambut kedatangan event langka ini untuk menggenjot sektor pariwisata, sehingga promo pun dilancarkan dan sejumlah acara akan digelar menjelang, saat, dan setelah gerhana berlalu.

Ada 12 kota di 10 provinsi di Indonesia yang dapat menyaksikan fenomena ini secara utuh, sementara di beberapa daerah yang lain hanya dapat dilihat sebagian.

Ke-12 kota tersebut adalah Palembang, Bangka, Belitung, Palangkaraya, Balikpapan, Sampit, Luwuk, Ternate, Tidore, Palu, Poso dan Halmahera.

Sementara kota-kota yang hanya melihat gerhana separuh adalah Jakarta, Padang, Bandung, Surabaya, Pontianak, Denpasar, Banjarmasin, Makassar, Kupang, Manado dan Ambon.

GMT akan terjadi pada pagi hari, saat Matahari beranjak naik dari peraduannya di timur Bumi, sekitar pukul 07:30 WIB di wilayah barat Indonesia, dan pukul 09:00 di wilayah timur Indonesia, dan akan berlangsung sekitar 3 menit.

Lebih dari 3.000 ilmuwan dari seluruh dunia akan datang ke Palu untuk mengobservasi fenomena itu dan melihat dampaknya terhadap Bumi.

Berdasarkan science, GMT terjadi ketika posisi bulan terletak di antara Bumi dan Matahari, sehingga menutup sebagian atau seluruh cahaya Matahari. 

Walau wujud Bulan lebih kecil, bayangan Bulan mampu melindungi cahaya Matahari sepenuhnya karena Bulan yang berjarak rata-rata jarak 384.400 kilometer dari Bumi, lebih dekat dibandingkan Matahari yang mempunyai jarak rata-rata 149.680.000 kilometer.

Ketika GMT berlangsung, umat Islam yang melihat atau mengetahui gerhana tersebut disunnahkan untuk melakukan shalat gerhana (salat khusuf).


Mitos

Dahulu kala, sebelum ilmu pengetahuan belum berkembang dan pola pikir masyarakat masih primitif, kemunculan GMT selalu dikaitkan dengan mitos-mitos yang bagi masyarakat modern sangat aneh dan tak masuk akal. Mitos itu dapat ditemukan di banyak negara.

Berikut mitos-mitos dimaksud:
1. China: Naga makan matahari
Masyarakat China kuno percaya bahwa GMT terjadi karena adanya seekor naga yang sedang melahap Matahari, dan kejadian ini membuat dua astrolog pada masa itu, Hsi dan Ho, dieksekusi mati karena dianggap gagal memprediksi waktu yang tepat saat "si Naga Nakal" beraksi. Untuk menakuti naga itu dan membuatnya melepaskan Matahari,  warga membunyikan sesuatu yang menimbulkan suara keras dan berisik, termasuk petasan. Hingga kini tradisi itu masih dilakukan di China.

2. Mesir Kuno: Dewa Matahari Melawan Ular Laut
Dalam mitologi Mesir Kuno ada satu dewa yang paling penting, yaitu Ra, dewa berkepala elang dan merupakan Dewa Matahari. Dalam kesehariannya, Ra memimpin sebuah perahu yang banyak berisi dewa guna melintasi langit.

Ketika malam hari, Ra kembali ke barat lewat jalan akhirat (underworld) dengan membawa cahaya untuk jiwa-jiwa yang sudah mati. Perjalanan ini sangat berbahaya.

Letak bahaya dari perjalanan Ra ini adalah adanya Apep, yaitu dewa Ular Laut yang jahat. Apep selalu berusaha untuk menghentikan perjalanan Ra. Bila GMT terjadi, masyarakat Mesir kuno pun percaya kalau Apep tengah berhasil menghentikan Ra, walaupun pada akhirnya Ra dapat meloloskan diri dan Matahari kembali bersinar.

3. India: Setan Memakan Matahari
Dalam mitos Hindu di India ada dua setan, yakni Rahu dan Ketu. Ketika GMT terjadi, masyarakat di sana percaya kedua setan itu tengah melahap Matahari, sehingga para wanita hamil disarankan untuk tetap berada dalam rumah agar bayi mereka tidak terlahir cacat. Mereka juga disarankan mengucapkan doa-doa, puasa dan mandi di sungai-sungai suci untuk mennjauhkan efek negatif dari gerhana itu. 

4. Jawa: Matahari Dimakan Betara Kala
Mitos di Tanah Jawa terkait GMT tak jauh berbeda dengan di negara lain, hanya pelakunya saja yang berbeda nama.

Di Tanah Jawa, menurut mitos, GMT terjadi karena Matahari dimakan raksasa bernama Betara Kala atau Rahu, karena dendam kepada Sang Surya atau Dewa Matahari.

Saat GMT terjadi, para wanita hamil juga tak boleh keluar rumah dan anak-anak kecil dilarang berkeliaran agar tidak ikut dimakan Betara Kala. Hingga kini masih ada penduduk di beberapa wilayah di Jawa yang masih mempercayai mitos ini.

5. Jepang: Gerhana Matahari Penyebar Racun
Meski masyarakat Negeri Sakura memiliki pemikiran yang lebih maju di banding beberapa negara di Asia, bukan berarti mitos tentang GMT tak ada di sana.

Masyarakat kuno Jepang percaya bahwa gerhana Matahari adalah sebuah wabah atau pagebluk yang sangat berbahaya karena ketiga gerhana terjadi, sedang ada racun yang ditebarkan, sehingga Matahari tertutup dan dunia gelap gulita selama beberapa saat.

Untuk mencegah agar air di Bumi tidak terkontaminasi, masyarakat buru-buru menutupi sumur mereka. (berbagai sumber)
Share:
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

KALENDER

Calendar Widget by CalendarLabs

PENGINGAT WAKTU

Arsip

Flag Counter

Total Pageviews